Hallo shibaraku ne…
Tak terasa sudah hampir 2 bulan tinggal di negeri sakura. Ada cerita apa yah ?
Islam mengajarkan kepada umatnya bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Di sini mungkin dengan kaidah yang berbeda (entah apa yah..) kebersihan terjaga dengan baik sekali.
Mengelola sampah adalah aspek terpenting yang harus di perhatikan untuk meraih kata ‘bersih’. Sampah di jepang diatur sangat ketat, aturan ini berlaku untuk semua orang, tidak ada diskriminasi.
Pertama, sampah harus dipisahkan, apakah bisa dibakar seperti sisa makanan, kertas. Atau tidak bisa dibakar seperti plastic dan sejenisnya. Sampah yang tidak bisa dibakarkan, masih dipisahkan lagi, berdasarkan jenis sampahnya, apakah botol bekas minuman, plastic dll, ada 9 jenis sampah.
Sampah yang telah kita pisahkan tersebut, dimasukkan ke dalam kantong plastik transparan yang telah di sediakan. Ingat sebelum dimasukkan, sampah harus dalam keadaan bersih, misalnya lunch box & sejenisnya, harus dibersihkan terlebih dahulu.
Jangan lupa pula, menuliskan nama kita & alamat pada plastik transparans yang telah disediakan. Gunanya untuk apa? Hehe..jika sampah kita bermasalah, tidak mengikuti kaidah, sampah tersebut pasti akan dikembalikan lagi kepada pemiliknya.
Kedua, membuang sampah harus disesuaikan dengan waktunya. Sampah makanan dibuang 2x seminggu, sampah jenis plastik dibuang seminggu sekali. Jangan coba-coba membuang sampah tidak mengindahkan waktu buangnya, dijamin, sampah akan dikembalikan lagi kepada pemiliknya.
Susah sekali bukan? Awalnya sih sangat menyusahkan, lama-lama sudah terbiasa koq.
Hasilnya, lingkungan menjadi bersih, sangat bersih sekali. Sehingga malu membuang sampah sembarangan di tempat yang bersih.
2009-06-20
Repotnya sampah..
2009-02-14
Pejuang Sejati
2 bulan terakhir ini, karena ‘terpaksa’ harus les bahasa jepang, seringkali pulang malam. Biasanya, bis & angkot menjadi tumpuan harapan yang sangat diandalkan untuk pulang ke rumah. Namun karena malam semakin pekat, badan pun semakin penat, maka alternative lain harus menjadi solusi. Akhirnya, pulang ke rumah ‘terpaksa’ menggunakan taksi. Dalam bahasa jepangnya, “watashi wa takushi de uchi e kaerimasu”.
Beraneka ragam sopir taksi, maka bermacam-macam pula sifat & tingkah polahnya. Ada yang pendiam, ada pula yang suka mengobrol, ada yang hobi dangdutan, ada pula yang hobi mendengarkan lantunan lagu dari (alm) broery. Ah itulah hebatnya ALLAH, sang Pencipta Alam Semesta ini. Tapi berapa banyak manusia yang malah mengkufuri-Nya..
Suatu waktu, aku menumpang taksi dan kebetulan sopirnya suka mengobrol. Beliau menceritakan baru saja mendapat musibah, ban mobilnya terperosok ke dalam lubang. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya ada seorang bapak yang bersedia menolong, dengan dibantu beberapa orang pegawainya, taksi itu pun berhasil dikeluarkan dari lubang. Betapa senang hati sang sopir, antara sungkan & rasa senang yang meluap-luap, ia raih beberapa lembar hasil jerih payahnya seharian, namun bapak & pegawainya yang baik hati ini, menolak pemberiannya, Subhanallah…ternyata di Jakarta ini masih ada orang-orang yang tulus menolong sesamanya tanpa pamrih.
Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula terima kasih. (QS76:9)
Cerita pun berlanjut lagi, ketika musibah itu terjadi, pak sopir sedang melamun karena memikirkan anak lelakinya yang duduk di bangku SMP ‘ngotot’ minta dibelikan motor. Seorang sopir taksi tentu berat mengabulkan permintaan seperti itu, faktor ekonomi menjadi hambatan utama. Walaupun beliau sangat ingin membahagiakan anaknya. Betapa seorang bapak sangat menyayangi anaknya, walau terkadang sang anak kurang memahami kasih sayang itu.
Ingatanku langsung melayang mundur beberapa tahun yang lalu, wajah almarhum bapak membayang-bayang di hadapanku. Kerut di wajahnya pun terlihat jelas, bukti betapa berat beliau menopang beban hidup ini, kerja keras tidak mengenal waktu, bahkan hingga larut pagi, padahal hanya satu saja keinginannya, membuat anak-anaknya bahagia.
Kasih sayang itu belum pun terbalaskan, kebaikan itu pun belum cukup terbayarkan. Namun kesempatan untuk itu telah hilang. Saat ini, hanya air mata & doa di keheningan malam untuk bapak, pejuang sejati yang tiada bandingnya…
Maafkan aku..
2009-01-01
Untukmu Palestina
Beberapa hari terakhir ini, kita disuguhi aksi keji nan biadab yang dilakukan zionis Israel yang terus memborbadir wilayah Gaza di palestina. 360-an syahid dan ribuan terluka, kebanyakan anak-anak dan wanita. Siang dan malam zionis menggempur Gaza, tidak peduli apakah itu fasilitas militer ataukah fasilitas umum. Bahkan sekolah, mesjid dan rumah sakit pun jadi sasaran, dalihnya hanya satu yakni mengejar pejuang-pejuang Hamas. Akibatnya, Gaza bagaikan neraka dunia.
Ironisnya, dunia arab, bangsa yang paling dekat dengan palestina mengeluarkan acting ‘pura-pura’ tidak tahu. Rezim Arab yang ‘berselingkuh’ dengan Amerika nyata-nyata membiarkan pembantaian ini berlangsung di depan mata mereka. Mereka tak berdaya dan pura-pura tak berdaya.
Rezim dunia merespon kejadian walau dengan sangat lambat. Dewan keamanan PBB baru bersidang hari ini (1/1/2009), padahal ratusan korban telah berjatuhan. Bandingkan dengan invasi yang dilakukan Irak kepada Kuwait, mereka langsung menjatuhkan sangsi secepatnya. Maka jangan harapkan dewan keamanan PBB yang cenderung membela kepentingan Amerika dan sekutunya.
Harapan tergantung dari umat islam sendiri, sekarang saatnya muslim sedunia bersatu. Melepaskan semua perbedaan, kepentingan, bergandengan tangan membantu saudara yang tengah menderita.
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (Muslim)
Palestina sedang menderita, sungguh kami di sini merasakan kepedihan yang sama. Bergetar hati ini menyaksikan serangan roket-roket zionis Israel menghancurkan Gaza dan membantai warga palestina. Geram dan sedih bercampur aduk, doa lirihku untuk kalian yang syahid dan yang terluka. Ya Allah..tabahkanlah hati-hati kami.
Nb: "Hidayatullah.com Peduli Palestina". No Rek. BCA: 822 0279422 CP Redaksi 081-357342242
Surat Untuk Calon Bidadari Surga
Miris...setelah membaca curahan hati seorang mantan reporter berita salah satu stasiun tv terkenal nasional. Aku menyebutnya sang Mujahid karena kegigihan dan keteguhan hatinya melawan tirani dan kebodohan akal yang membelenggu. Kebodohan akal dan matinya nurani bukan saja membuat orang menjadi gelap mata melawan perintah Allah sekaligus mengabaikan UUD yang mereka ‘berhala’kan sendiri. Bagitu naïf…tak habis pikir, bagaimana mungkin di negeri mayoritas muslim, ada salah seorang umatnya yang terpasung hak-haknya.
Aku jadi teringat kisah-kisah yang menggetarkan hati di jaman Nabi, maupun setelahnya. Salah satunya adalah Bilal bin Rabah, budak hitam dari negeri etiopia, ketika keislamannya diketahui oleh majikannya, siksaan demi siksaan keji mendera tubuh dan batinnya. Penyiksaan dilakukan agar Bilal melepas keislamannya dan kembali pada kekafiran. Suatu ketika ia dijemur ditengah terik panas matahari, tidak ada kalimat yang terucap dari bibirnya kecuali “ahad..ahad..ahad..!”. Bilal tetap teguh. Dialah Bilal yang membuat nabi saw bermimpi mendengar terompahnya di surga. Bilal sang pengumandang azan, begitu tinggi derajatnya di sisi Allah.
Berteguh hatilah ukhti, ganjaran yang setimpal telah menantimu. Tidakkah kamu mengetahui bahwa ridha Allah adalah segalanya. Semoga surga menanti untukmu, ukhti. Biarkan mereka yang mencibirmu dan berkata dengan pongahnya,” Kamu tersesat. Semoga segera kembali ke jalan yang benar”. Sungguh merekalah yang sesat, mereka akan menerima ganjarannya pula, akibat perkataan yang bodoh.
Ingatlah bahwa Aisyah istri Rasulullah saw dan istri sahabat nabi, ketika mendengar ayat “dan hendaklah mereka menutupkan "khumur" -jilbab- nya ke dada Mereka” maka para wanita segera mengambil kain sarung, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai jilbab.
Doaku..untukmu, wahai calon bidadari surga!
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. Al-Baqarah (2): 214
2008-11-04
Semu menjadi Nyata...
Hukum di dunia mengikuti Hukum Allah, sesuatu yang sebenarnya tidak ada nilainya tapi dikemas atau dibuat seolah-olah bernilai, suatu saat pasti akan kembali ke bentuk asalnya yaitu tidak berharga lagi. Benda diam yang kita putar, perlahan tapi pasti, akan kembali diam.
Uang kertas yang kita gunakan saat ini merupakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada nilai instrinsiknya alias nihil, tapi sengaja ditetapkan, dipaksakan dan direkayasa sehingga (seolah-olah) bernilai. Akhirnya nilai hasil 'rekayasa' ini pun tidak akan bertahan lama, berangsur-angsur, perlahan tapi pasti, nilainya akan berkurang terus, lama kelamaan akan kembali ke kondisi awalnya yaitu tidak bernilai.
Ketika SD dulu, dengan uang senilai seratus atau dua ratus rupiah, aku bisa pulang sekolah dengan menggenggam es di tangan kiri dan cak weh di tangan kanan. Lalu bagaimana keadaan sekarang? Jangankan untuk membeli es atau cak weh, pengemis atau pengamen jalanpun akan cemberut jika kita berikan uang seratus atau dua ratus rupiah. Meminjam bahasa gaulnya aktor 3 jaman H (alm) Benyamin Sueb, “gembel aje kaga doyan!”
Investasi berbasis uang kertaspun sangat rendah nilainya. Misalkan saat ini kita memiliki tabungan hari tua seperti jamsostek atau simpanan untuk pendidikan anak. Andaikan saja, saat ini anak kita baru lahir ke dunia, lalu kita membeli produk asuransi pendidikan senilai 50 juta yang akan cair ketika si anak akan masuk perguruan tinggi. Apakah kita yakin uang 50 juta tersebut, akan cukup untuk membiayai masuk perguruan tinggi, 18 tahun yang akan datang?
Apalagi tabungan hari tua semacam jamsostek, gaji dipotong setiap bulannya. Lalu dana tabungan tersebut akan kita ‘nikmati’ setelah pensiun, apakah tabungan hari tua tersebut benar-benar bisa 'menjamin' hari tua kita?
Kita pun tidak pernah mendengar, cerita mengenai pemburu harta karun yang mengejar harta berupa uang kertas. Seberapapun besar & banyaknya uang kertas tersebut. Pemburu harta karun dari masa ke masa, selalu memburu sesuatu yang bernilai nyata, seperti emas, perak dll.
Pernahkah terlintas pertanyaan di dalam hati kita, mengapa uang yang dulu bisa kita gunakan untuk membeli sesuatu, saat ini tidak lagi mampu untuk membeli barang yang sama? Apakah harga barang tersebut yang naik atau nilai uangnya sendiri yang turun? Padahal es atau cak weh yang kita beli tidak ada perubahan kualitasnya, es nya tetap sama, cak weh nya pun tetap sama. Atau harga seekor kambing, beberapa tahun yang lalu berkisar 300 ratus ribuan, sekarang kita baru bisa mendapatkan seekor kambing jika kita mengeluarkan uang senilai 1 jutaan rupiah. Padahal kambingnya pun sama, tetap disebut kambing, yang tiap harinya makan rumput bukan burger, bukan pula kambing dengan badan seekor sapi. Mengapa harganya semakin ‘mahal’?
Islam sebagai agama yang sempurna yang diturunkan bagi kesejahteraan umat manusia, sudah tentu memiliki petunjuk untuk mengatur kehidupan umatnya. Di Jaman Rasulullah saw, Emas & Perak digunakan sebagai mata uang yang disebut dinar dan dirham. Uang emas & perak ini sudah lebih digunakan oleh bangsa-bangsa terdahulu seperti bangsa Persia bahkan digunakan juga di seluruh dunia, termasuk di kerajaan-kerajaan nusantara. Dan umat islam baru mencetak sendiri koin emas pada zaman kalifah Ustman dengan tulisan arab berlafadz ‘bismilillah’.
Harga kambing di jaman Rasulullah saw, berkisar antara 0.5–2 dinar, saat ini pun, kita bisa mendapatkan seekor kambing dengan koin emas 1 dinar saja. Jadi selama 1400 tahun, nilai emas dinar tidak berubah. Mengapa? Karena uang emas atau perak memiliki nilai tanpa direkayasa & dipaksa oleh Negara. Emas merupakan ‘standar’ nyata bukan komoditas semu yang dispekulasikan. Emas dimanapun akan tetap berlaku, tidak memandang batas wilayah atau Negara. Emas tetap emas walaupun kita menemukannya 100 atau 200 tahun kemudian. Waktu-pun tidak mampu menggerus nilai emas.
Menurut Zaim saidi, Segala hal yang tidak memiliki pijakan nyata, atau komoditas semu yang dispekulasikan, adalah riba. Riba itu pangkal kehancuran masyarakat. Menurutnya, riba bukan sekadar rente atau bunga atas pinjaman uang. Sejatinya, uang kertas adalah riba karena nilainya adalah nilai semua. Maka, selembar kertas yang sama tiba-tiba punya nilai berbeda ketika yang menuliskan angkanya berbeda. Rp 100 tak dapat dipakai membeli apa-apa karena yang menuliskannya orang Indonesia. Sedangkan 100 dolar menjadi berharga karena angka seratus itu milik Amerika.
Wajar saja, perlahan tapi pasti riba akan hancur atau dengan kata lain uang kertas akan hancur. Karena “Allah-lah yang memusnahkan riba” (QS2:276)
Amat disayangkan, potensi besar umat islam yang berjumlah 1 milyar lebih jika menggunakan uang emas atau perak, tentunya akan dengan mudah ‘menyingkirkan’ dominasi uang kertas yang dzolim, tidak adil dan cenderung spekulatif. Lalu mengapa kita –umat muslim- ‘takut’ meninggalkan uang kertas? Mengapa kita –umat muslim- tidak ingin menjauhi riba? Mengapa kita masih saja ragu mengubah sesuatu yang semu menjadi nyata…
2008-10-22
Jangan ikuti mereka…!!!
Apakah yang menjadi alasan atau landasan berpikir sang Professor liberal radikal ini dalam melakukan aksi nyelenehnya?
“Tidak ada larangan dalam Al-Quran” katanya. “Penelitian teologisku dalam intisari agama Islam menunjukkan kebutuhan bagi kami untuk dapat berpindah jauh dari tradisi yang membatasi wanita dari kebiasaan praktek memimpin shalat.”
Jawaban yang menunjukkan adanya kesalahan fatal dalam kerangka berpikir yang hinggap di kepala seorang professor studi islam ini.
Islam telah menetapkan hukum-hukum dasarnya, yaitu asal segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah adalah mubah/boleh, kecuali ada nash Alquran maupun sunnah yang jelas dan tegas melarangnya.
Sedangkan hukum dasar suatu ibadah adalah TERLARANG kecuali ada nash Alquran maupun AsSunnah yang memerintahkannya atau dengan kata lain ibadah apapun bentuknya terlarang jika tidak diperintahkan oleh Allah dan RasulNya.
Jadi, jika Amina wadud meminta nash Alquran yang melarang (aksi nyelenehnya), jelas permintaan yang mengada-ada dan salah kaprah. Amina Wadud-pun tidak menikah dengan seekor monyet, mengapa? Apakah ada larangan dalam Alquran untuk menikahi seekor atau dua ekor monyet sekaligus? tidak ada khan, lalu mengapa Amina Wadud enggan menikah dengan seekor monyet atau beruk?
Satu-satunya hal yang melandasi kelakuan nyeleneh dan asal beda dari kalangan liberal radikal hanyalah ‘kebutuhan’ untuk menyalurkan hawa nafsu yang menyimpang. Sama sekali tidak terkandung ilmu yang melandasi segala tindak-tanduk maupun pendapat mereka. Tidak mengherankan jika ulama-ulama dunia mengecam keras aksi ini. Majma' Al-Fiqhi Al-Islami (MFI), rujukan tertinggi dalam masalah hukum fikih Islam di dunia, mengecam keras aksi 'nyeleneh' ini dan menyebutnya sebagai hal baru yang menyesatkan dan musibah. ulama besar Syeikh Yusuf Al-Qardhawi juga mengecam keras aksi shalat Jum’at nyeleneh ala Wadud itu. Al-Qardhawi menyebutnya sebagai bid'ah yang munkar. Menurutnya, dalam sejarah Muslimin selama 14 abad tak dikenal seorang wanita menjadi khatib Jum’at dan mengimami laki-laki. Bahkan kasus seperti ini pun tak terjadi di saat seorang wanita menjadi penguasa pada era Mamalik di Mesir.
Tapi apakah pemuja-pemuja aksi nyeleneh kaum liberal radikal ini akan berdiam diri dan tidak membela ‘tuan’nya dengan membabi-buta?
Bahkan orang yang tidak jelas asal-usulnya (latar belakang pendidikan agamanya) tiba-tiba mengeluarkan komentar bernada bingung nan linglung, seperti ini, “Itu, kalau Wadud salah. Kalau Wadud ternyata benar, manfaatnya jelas: kita menemukan kebenaran baru. Karena itu, terlepas dari benar atau salah, pandangan Wadud yang kontroversial sangat penting untuk dijadikan agenda isu terbuka umat Islam.”
Yah..manusia diberi karunia oleh Allah berupa akal, penglihatan, pendengaran dan hati, tentunya akan mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan celakalah bagi orang-orang yang tidak mau menggunakan akal, mata, pendengaran dan hatinya, lalu mengikuti (perbuatan) mereka bahkan membela dengan membabi-buta perbuatan yang jelas-jelas kadar kemungkarannya ini, karena semua karunia Allah tersebut pasti akan diminta pertanggungjawabannya, tidak akan ada yang terlewat…
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. QS17:36
2008-10-13
Jangan Sia-Siakan Sholat...
Apakah saat ini, di zaman kita hidup, generasi-generasi buruk yang menyia-nyiakan sholat itu telah datang? Lalu siapakah orang-orang yang dimaksud dengan generasi-generasi buruk yang menyia-nyiakan sholat itu? Apakah kita termasuk di dalamnya? Apakah keluarga kita termasuk di dalamnya? Apakah saudara-saudara kita yang dimaksud oleh ayat tersebut?
Ketika ayat ini turun kepada Rasulullah saw, beliau bertanya kepada Jibril as, “Wahai Jibril, apakah sepeninggalku nanti umatku akan mengabaikan sholat?"
Jibril menjawab, "Benar, wahai Muhammad, kelak di akhir zaman akan datang sekelompok manusia dari umatmu yang mengabaikan sholat, mengakhirkan sholat (hingga keluar dari waktunya), dan memperturutkan hawa nafsu. Bagi mereka satu dinar (uang) lebih berharga daripada sholat."
Ayat inilah yang membuat Rasulullah saw bersedih, menangis dan menyesali keadaan umatnya. Beliau saw berkata, "Ahh..., andaikan saja aku dapat hidup terus untuk melihat apa yang diperbuat oleh umatku terhadap sholat. Ahh..., aku sungguh menyesali umatku."
Rasulullah saw sangat sayang kepada kita, sungguh beliau telah bersedih untuk kita…beliau telah menangisi keadaan kita…beliau telah menyesali perbuatan buruk yang kita lakukan. Lalu apakah kita telah menangisi diri sendiri? Apakah kita telah menyesali diri sendiri?
Rasulullah saw pun bersabda : “Ash shalaatu mi'rajul mu'miniin”. Bahwa, shalat itu adalah mi'rajnya orang-orang yang beriman. Shalat diumpamakan sebagaimana halnya Nabi mi'raj. Seorang hamba diperjalankan untuk datang, mendekat, menemui Tuhannya.
Bukankah kita mengaku sebagai hamba yang mencintai Allah? lalu mengapa kita merasa malas, enggan dan berat hati untuk menemui dan mendekati sesuatu yang kita cintai? Cinta macam apakah yang kita miliki? apakah kita yang membutuhkan sholat? atau jangan-jangan kita merasa, Allah-lah yang butuh sholat kita?
Kita adalah generasi yang terpesona oleh gemerlap dunia hingga menjadi sebuah bencana apabila kita tidak mampu meraihnya, apalagi kehilangannya. Dunia telah melalaikan kita, hawa nafsu begitu setia kita turuti kemauannya dan bujuk rayu syetan terasa indah dalam benak kita. Padahal, kita pasti akan meninggalkan dunia atau dunia yang akan meninggalkan kita, tidak ada sedikitpun keraguan tapi …mengapa kita sering meremehkan sholat? mengapa kita sering melalaikan dan mengakhirkan (pelaksanaan) sholat? Padahal tidak ada satu pun manusia yang mengetahui kapan sakratul maut datang menjemputnya. Mungkin saja, ketika kita terus menerus melalaikan dan mengakhirkan (pelaksanaan) sholat, tiba-tiba ajal datang menjemput. Setelah itu, tidak ada gunanya lagi penyesalan, tidak ada gunanya lagi apa-apa yang kita usahakan di dunia ini.
Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya): "Siapakah yang dapat menyembuhkan?", dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al Quran) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dam berpaling (dari kebenaran), kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. (QS75:26-35)
Menangislah…mudah-mudahan air mata yang menggenangi tempat sujud kita, membuat Allah mengampuni kita, membuat kita bukanlah termasuk orang-orang yang dihalau (menuju neraka), menyelamatkan kita dari azabnya yang kekal, yakni neraka jahannam.
Seperti apa yang disabdakan Rasulullah saw, "Dua (jenis) mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka: Mata yang menangis akibat ketakutan kepada Allah dan mata yang tidak tidur berjaga di jalan Allah."







