ハリスBlog

Belajar mendengar, melihat & menulis

March 28, 2012

Comeback...

Setelah lama blognya ini "matisuri", sudah saatnya untuk "corat-coret" lagi. Tema sedikit diubah, lebih condong menyoroti SEPILIS "Sekulerism, pluralism & liberalism". Tunggu saja coretan pertama saya! (^_-)

October 6, 2009

Menghargai sebuah Nyawa

5 hari pasca gempa mengguncang Padang dan sekitarnya, 5 hari pula hati tergetar mendengar kabar ribuan korban telah berjatuhan, ribuan bangunan hancur luluh lantak, jalan & jembatan rusak berat, Padang pun lumpuh total, tergolek lemah tak berdaya.

Bencana demi bencana menerpa, toh tidak membuat bangsa ini belajar banyak darinya. Jangankan untuk menyelami makna yang tersirat dibalik bencana ini, memperbaiki kesalahan demi kesalahan yang dilakukan dalam menangani pasca bencana pun sangat sedikit dilakukan, tak nampak perubahan yang berarti.

Sampai detik ini, bangsa ini tidak memiliki sistem penanggulangan bencana yang terpadu dan komprehensif. Manusia tidak bisa menghindarkan diri dari bencana yang datang, tapi manusia bisa berusaha untuk meminimalkan korban yang jatuh sekecil mungkin dan kerusakan yang mungkin terjadi serendah mungkin.

Banyak hal yang bisa dilakukan, sebelum bencana ataupun pasca bencana, misalnya pemerintah di pusat maupun daerah harus bersinergi mendukung penuh mengenai tata ruang dan bangunan yang tahan gempa, baik itu aturannya, kebijakan maupun pengawasan pelaksanaannya.

Kemudian bagian penting lainnya yang sering diremehkan yaitu sosialisasi pengetahuan bencana dan penanggulangannya harus dilakukan, dengan cara edukasi & latihan yang berkala. Sehingga masyarakat luas mengetahui apa yang harus mereka lakukan ketika bencana itu terjadi. Sayangnya, kita tidak pernah melakukan ini, kita tidak pernah mempersiapkan diri dengan baik.

Manajemen dan koordinasi pasca bencana pun harus tertata dengan baik, sehingga tidak ada lagi kesimpang siuran mengenai data korban, korban yang masih terperangkap atau tertimbun gempa dapat segera ditolong dan dievakuasi karena detik demi detik sangat berarti bagi mereka, para pengungsi pun bisa tertangani dengan baik, distribusi bantuan dilakukan sesegera mungkin dan sampai ke tangan korban dalam cakupan area bencana seluas mungkin. Tidak ada lagi istilah “sudah jatuh tertimpa tangga”, seperti bencana yang lalu dan saat ini.

Tolong, hargailah sebuah nyawa, tidak peduli nyawa tukang becak, supir angkot atau wakil rakyat sekalipun, nyawa adalah nyawa.

Labels:

October 4, 2009

Mengundang Miyabi = Mengundang Azab?

Untuk kesekian kalinya, negeri dengan penduduk muslim terbesar di jagat ini hendak "bertingkah" lagi, mereka lebih memilih diam & bahkan (diam-diam) mendukung ketika segelintir orang yang jiwanya rusak hendak mengundang artis porno jepang untuk bermain film komedi di indonesia.

Apa urgensi mengundang Miyabi? apakah dia artis komedi? Tentu saja bukan, dia adalah artis porno terkenal jepang, peringkat 9 JAV idol. Dia tidak bisa berakting kecuali urusan tempat tidur. Lalu mengapa pula film komedi? Mungkin karena film komedi Indonesia saat ini, tidak jauh dari urusan dada, paha dan tempat tidur, maka mereka berupaya mendatangkan Miyabi yang merupakan artis porno terkenal -tentunya dengan iming-iming biaya yang tidak sedikit jumlahnya- agar meraup keuntungan semata.

Lalu mengapa ada saja orang yang mendukungnya? Sebabnya bisa macam-macam, mungkin jika dia laki-laki, orang ini sangat memendam hasrat, berangan-angan dan bercita-cita, anak perempuannya atau istrinya bisa seperti miyabi, Dan jika orang yang mendukung kedatangan Miyabi ini adalah perempuan, karena di dalam dadanya ada hasrat menggebu ingin hidup bergelimang harta, seperti yang dijalani Miyabi saat ini.

Mengapa negeri dengan penduduk muslim terbesar sejagat raya ini gemar bermaksiat secara jemaah? Mengapa negeri ini beramai-ramai berani “menantang” Allah?

Entahlah..mungkin negeri ini memang sengaja mengundang adzab Allah, kita ingin Allah murka kepada kita dan menimpakan bencana lainnya. Padahal belum kering air mata para korban bencana di sumatera, belum kering pula darah yang tumpah di bumi yang terbelah itu, belum pula sembuh luka di hati para korban yang ditinggalkan kerabat tercintanya, bahkan masih banyak korban bencana yang belum dapat dikuburkan dengan layak karena masih terperangkap di reruntuhan bangunan. Lalu..Kita hendak “bertingkah” lagi, kemanakah perginya akal dan nurani ini?

Rasulullah SAW bersabda: "Apabila perzinaan dan riba telah melanda suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah menghalalkan turunnya azab Allah atas mereka sendiri". (HR Thabrani dan Al Hakim).

Labels:

September 30, 2009

Sudahkah Kita...?

Baru-baru ini, di Jepang sedang giat-giatnya melakukan “bousai kunren” atau latihan penanggulangan bencana seperti bencana gempa, kebakaran dll. Kali ini, Gempa menjadi perhatian serius dari warga Jepang, karena negeri ini termasuk yang paling sering “dihampiri” gempa, bahkan Kobe pernah dihantam gempa yang sangat dahsyat pada bulan januari 1995 yang menewaskan sekitar 5000 orang.

Mengapa mereka sangat aktif melakukan antisipasi penanggulangan bencana gempa? Karena menurut perkiraan mereka, gempa besar biasa datang di bulan Oktober, November ini. Walaupun mereka sadar bahwa belum ada 1 teknologi pun yang mampu memprediksi dengan tepat kapan gempa itu akan terjadi, toh prinsip “sedia payung sebelum hujan” benar-benar berlaku di sini.

Dalam melakukan latihan, mereka sangat serius, ketika sirine tanda bencana berdering, mereka segera memakai helm lalu merunduk di bawah meja. Setelah sirine berhenti, mereka berjalan keluar dengan tertib. Nyaris tidak ada canda-tawa atau gurauan walaupun ini hanya sebuah latihan.
Kemudian setiap pimpinan regu mengabsen satu per satu anggotanya, setelah sekitar 30 menit kembali masuk ke kantor. Di dalam kantor, film tentang hal-hal berkenaan mengenai gempa dan tindakan pasca gempa pun diputar. Mereka melakukan persiapan dengan sangat baik dan serius.

Pelajaran apakah yang bisa kita petik dari kejadian di atas ? Apakah yang mereka takutkan? Gempa? apakah gempa sudah pasti akan datang? belum tentu, mereka pun sadar itu, tapi mereka tetap melakukan latihan dan mempersiapkan bekal untuk menghadapi bencana gempa itu.

Sebagai muslim, seharusnya kita sadar bahwa sesungguhnya ada “sesuatu” yang selalu mengintai kita setiap saat, dia bisa datang kapan saja, baik pagi, siang, sore ataupun malam hari, tidak memandang apakah kita laki-laki atau perempuan, orang tua atau anak-anak, tidak pula peduli apakah kita sedang sakit ataupun sedang sehat. Ketika tiba saatnya, dia tidak akan menunda kedatangannya walau sedetik jua, sekedar untuk berpamitan kepada anak, istri atau suami sekalipun.

Dialah kematian, yang membuat para ahli debat bungkam selamanya, para raja terkulai tak berdaya, para saudagar -kaya raya- jatuh fakir seketika, dan mata alim ulama senantiasa sembab karena tangis muhasabahnya di keheningan malam.

Sudahkah kita mempersiapkan kematian, yang pasti akan datang menemui kita semua?

Labels:

September 27, 2009

Lumpur Membawa Nestapa

Lumpur..membawa nestapa dan kepedihan yang mendalam bagi orang-orang yang rumahnya, sawah, sekolah, harta bendanya, dan kampung halamannya lenyap selamanya. Begitu ganasnya sang Lumpur ini, bahkan kenangan maupun masa lalu mereka yang indah pun berusaha direnggut dan dirampas dari benak mereka.

Menunggu adalah sesuatu hal yang paling tidak mengenakkan. Apalagi menunggu penyelesaian hak kita yang terkatung-katung hingga tahunan, tak jelas hingga kapan.

Setelah rumah, sawah, sekolah mereka lenyap tenggelam ditelan Lumpur, mereka harus menjalani kehidupan yang 180 derajat berbeda, yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, menjadi pengungsi di tanah kelahiran mereka sendiri, dipaksa mengemis dan mengiba kepada tuan-tuan saudagar yang dzolim menahan hak mereka.

Sang tuan-tuan saudagar yang dzolim ini, menari-nari di tengah penderitaan orang lain, tidur nyenyak di atas kasur empuk dibuai mimpi nan indah ketika para pengungsi bergulat dengan dinginnya angin setiap malam, Mereka bisa meminum susu segar dan roti empuk setiap pagi hari, sedangkan para korban Lumpur terpaksa menahan lapar sambil menatap pilu bentangan lumpur setiap pagi dan sore.

Wahai orang-orang dzolim yang mampu menawarkan uang 1 trilyun kepada suatu partai, tapi menunggak dan menahan hak para korban Lumpur, dimana akal dan nuranimu? Padahal para korban hanya menuntut ganti rugi fisik dan material, tidak lebih, yang saudagar-saudagar itu sendiri telah tentukan besarnya. Dengarlah harapan mereka, "selesaikanlah hak mereka sesegera mungkin, LEBIH CEPAT LEBIH BAIK, JANGAN LANJUTKAN penderitaan mereka!"

Apakah kalian pikir Allah tidur dan tidak menyaksikan perbuatanmu? Orang-orang teraniaya itu akan bersaksi di akherat nanti, mereka akan bersaksi tentang tiap detik derita dan nestapa yang telah mereka rasakan.

Bersiaplah wahai orang dzolim..!


Labels:

September 21, 2009

Sabar dan Ikhlas..

Apakah yang akan kita rasakan? Gerangan apa yang kita lakukan apabila sebuah kabar menakjubkan datang, melintasi bentangan samudera sejauh ribuan kilometer. Istri -sebuah anugrah yang baru saja beberapa waktu yang lalu dilimpahkan oleh Allah swt- menyampaikan sebuah berita bahwa ada janin dalam perutnya.
“Alhamdulillah ya Allah!”puji & syukur seketika meledak. Rasa takjub & haru memenuhi dada, air mata syukur meleleh membasahi pipi, sujud dan bersimpuh di hadapan Nya seraya memohon ampun atas segala dosa yang telah dilakukan, membayangkan tanggung jawab yang tiada taranya menanti di depan.

Lalu..gerangan apa yang terlintas dalam pikiran kita? Apa yang akan kita lakukan ketika dalam waktu yang tak lama berselang, segala harapan, asa itupun pupus, karena ternyata Allah swt berkehendak lain. Air mata pun menggantung di kelopak mata, sesekali menetes di pipi. Tenggorokan sakit menahan tangis. Hendaknya bibir mengucap “inna lillahi wa inna ilaihi Rojiun” seraya bersikap sabar dan ikhlas, memohon kepada Allah swt agar menggantinya dengan yang lebih baik lagi.

Hidup ini, tidak akan lepas dari nikmat maupun cobaan, yang pada hakekatnya merupakan ujian dari Allah swt. Ujian sebagai sebuah kepastian atau bukti yang nyata, apakah kita merupakan hamba-hambaNya yang bersyukur, sabar & ikhlas atau hamba-hambaNya yang kufur, berkeluh kesah dan berputus asa.

Dibalik sebuah nikmat yang kita terima, seperti memperoleh jabatan, rezeki, ataupun dikaruniai anak, sesungguhnya semua itu merupakan ujian dari Allah. Namun ketika memperoleh nikmat seringkali kita lupa bahwa kita sedang berada dalam keadaan diuji. Kita tanpa sadar hanya merasa bahwa Allah swt sayang kepada kita, ketika limpahan nikmat itu, sedang kita rasakan, dan merasa Allah berlaku tidak adil dan membenci kita ketika musibah datang mendera.

Sesungguhnya tidak demikian, Allah swt telah mengaruniakan nikmat yang tidak akan pernah sanggup dihitung oleh manusia, dan Allah memberikan sedikit cobaan agar manusia mengambil hikmah dan pelajaran darinya, dan membuat manusia menjadi sabar dan ikhlas dalam menjalani hidup yang fana ini..

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS2:155-157)

Labels:

Ied di Negeri Sakura



Tak terasa..1 bulan menjalani puasa Ramadhan di negeri orang telah berlalu, hari kemenangan pun tiba. Hari dimana umat muslim dibolehkan berbuka di siang hari setelah sebulan lamanya lapar dan dahaga wajib dirasakan, inilah hari yang fitri atau ifthor.

Pengalaman sholat ied di negeri orang yang unik. Biasanya di kampung halaman sendiri, ied dilakukan serempak antara pukul 6.30-7.30 pagi. Dilakukan di tanah-tanah lapang atau mesjid-mesjid besar. Di sini, di negeri orang, ied dilakukan pada jam 9.30, karena aula gedung yang disewa oleh panitia ied, dibuka mulai jam 9.00 hehe..

Kebetulan ied kali ini jatuh pada hari minggu atau libur, jamaah yang ingin sholat ied membludak. Akibatnya, waktu pelaksanaan sholat mundur hampir 30 menit, suatu hal yang jarang terjadi di negeri jepang. Sambil menunggu waktu pelaksanaan sholat ied tiba, takbirpun berkumandang, sesekali diinterupsi oleh suara mic panitia yang bersusah payah mengatur jemaah yang datang dari bermacam-macam negara, dari Indonesia, Thailand, Pakistan, India, dan tentunya tuan rumah Jepang.

Sholatpun tiba, sebelumnya imam dan panitia memberikan pengumuman tata cara sholat ied, dengan 3 bahasa, Arab, Inggris, Jepang dan Indonesia. Ternyata pelaksanaan sholat ied di sini sedikit berbeda dengan yang biasa dilakukan di tanah air. Biasanya, takbir 7 kali pada rakaat 1 dan 5 kali takbir pada rakaat kedua. Ied kali ini, 3 kali takbir di rakaat pertama, dan 3 kali takbir di rakaat kedua sebelum rukuk. Mungkin perbedaan terjadi karena imam yang melakukan sholat berasal dari Pakistan atau India. Semua makmum wajib mengikuti imam dan tidak menyelisihinya.

Imam pun bertakbir, begitu syahdu. Dan membaca surat AL A´LAA dan AL GHAASYIYAH dengan tartil dan indah. Sholat ied ditutup dengan sedikit khutbah dalam bahasa arab. Setelah itu jamaah dari Indonesia yang mayoritas saling bermaaf-maafan, sedangkan panitia membagi-bagikan makanan kecil. Suasana hangat pun terjalin.

Tetap saja, lebaran di kampung sendiri lebih nikmat tiada taranya, bersama dengan orang-orang tercinta, handai taulan dan kerabat dekat. Rindu sekali berRamadhan dan berhari raya Ied di negeri sendiri, insya Allah tahun depan, masih berjumpa dengan Ramadhan dan Ied. Ramadhan dan Ied yang pertama bersama istri tercinta, menjadi imam dari makmum yang cantik. Insya Allah..

Note: Selamat hari Raya Ied Fitri, Taqqaballhu minna wa minkum, Minnal aidin wal Faidzin, semoga Allah menerima amal kita semua dan mohon maaf lahir batin..

Labels: