ハリスBlog

Belajar mendengar, melihat & menulis

August 28, 2008

Pernikahan

Hari pernikahan merupakan salah satu peristiwa paling bermakna dalam perjalanan hidup seorang anak manusia. Perasaan haru, bahagia, tawa & airmata bercampur aduk menjadi satu. Pastinya, tidak ada satupun manusia yang enggan menikah, bahkan yang sudah pernah menikah saja, banyak yang ingin menikah kembali.

Bagi seorang muslim, pernikahan merupakan bukti nyata mengikuti sunnah Rasulullah saw, beliau saw bersabda, "Barang siapa telah mempunyai kemampuan untuk menikah kemudian ia tidak menikah maka dia bukan termasuk umatku".

Pernikahan di mata islam bukanlah semata sebagai sarana terhormat untuk mendapatkan anak yang sholeh, bukan semata cara untuk mengekang penglihatan, hendak menyalurkan biologis, atau semata menyalurkan naluri saja. Tapi Islam mempunyai pandangan bahwa pernikahan sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan yang lebih besar yang meliputi aspek kemasyarakatan berdasarkan islam yang mempengaruhi eksistensi umat islam di kemudian hari.

Pernikahan menurut islam berdasarkan kepada rukun & syarat-syaratnya. Salah satu hal yang penting, sah atau tidaknya sebuah pernikahan adalah adanya wali nikah bagi perempuan.
Rasululllah saw bersabda, Laa nikaha illa waliy, Tidak ada pernikahan tanpa wali.
Bahkan pada hadist lain Rasulullah saw mengulangi peringatannya hingga 3 kali, ‘ayyumam roatin nakahat ghoiri idzni waliyyaha fanika huwa bathil, fanika huwa bathil, fanika huwa bathil, Siapapun di antara wanita yg menikah tanpa seizin walinya maka nikahnya batal, nikahnya batal, nikahnya batal.

Oleh karena itu, janganlah kita mengikuti bisikan-bisikan jahat yang dihembuskan oleh aktivis feminis & kaum liberal yang mempromosikan ajaran bahwa wanita boleh menikah tanpa wali. Sesungguhnya mereka bukanlah hendak membela hak ataupun menaikkan derajat perempuan, melainkan mereka hendak menghina, melecehkan bahkan menjerumuskan wanita.

Menjadi wali nikah, merupakan pengalaman luar biasa bagiku. Luar biasa, karena aku belum pernah menjadi mempelai sebelumnya, langsung naik ‘pangkat’ menjadi wali. Rasa haru, sedih, bahagia bergejolak di dada ini. Peristiwa sakral yang tidak hanya ditatap oleh mata manusia, tapi disaksikan pula oleh Allah & malaikat-malaikatNya.

Teriring doa & asa, aku ‘serahkan’ adikku kepada ‘penjaga’nya, pengayomnya, dan pemimpinnya. Mataku basah ketika kalimat-kalimat dalam ijab mendesak keluar dari bibir ini, aku teringat almarhum bapak. Rasa haru ini tak tertahankan ketika aku memeluk adikku, seraya membisikkan beberapa pesan & nasehat untuknya.

Setiap laki-laki yang telah menikah bertanggungjawab terhadap 4 wanita di sekitarnya, yaitu ibunya, adik perempuannya, istrinya & anak perempuannya. Allah azza wa jalla akan menuntut pertanggungjawaban laki-laki pada Yaumul Akhir kelak. Saat ini, aku hanya bertanggungjawab terhadap 2 wanita, sungguh aku ingin menyempurnakan ‘beban’ ini, bilakah mimpi itu menjadi nyata?

Wallahu alam bish-shawab.

Labels:

Marhaban Ya Ramadhan

Bulan penuh ampunan, bulan penuh rahmat, sebentar lagi akan kita rasakan. Sebagai muslim sudah selayaknya kita menyambut bulan Ramadhan dengan penuh suka cita & asa yang membumbung tinggi hingga ke langit.

Inilah bulan dimana desah nafas kita bagaikan tasbih, tidur kita adalah ibadah, pahala-pahala dilipatgandakan, dosa-dosa dihapuskan. Sungguh beruntung orang yang menyempurnakan akhlaqnya di bulan ini, balasannya kelak di yaumul akhir adalah selamat ketika melewati shirath, dimana kaki-kaki banyak yang tergelincir.

Pada bulan penuh keistimewaan ini, Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda "barangsiapa yang melakukan sholat sunnah di bulan ramadhan, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barang siapa yang melakukan sholat fardhu, baginya ganjaran seperti 70 sholat fardhu di bulan yang lain. Barang siapa yang pada bulan ini membaca satu ayat al-Qur’an, ganjarannya sama dengan menkhatamkan Al-Qur’an di bulan-bulan yang lain. Barang siapa yang memperbanyak shalawat kepadaKu di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan."

Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda:
"Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wa Jalla setiap hari menghiasi Surga-Nya lalu berfirman (kepada Surga), 'Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu, 'pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada ummatku ampunan pada akhir malam. "Beliau ditanya, 'Wahai Rasulullah apakah malam itu Lailatul Qadar' Jawab beliau, 'Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya.' " (HR. Ahmad)

Marhaban ya Ramadhan..

Astaghfirullooh lii wa lakum. wa Barokallooh lii wa lakum.

Dengan segala kerendahan hati, mohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahan, baik yang tersimpan di dalam hati, maupun yang terucap melalui kata-kata dan perbuatan.

Selamat menunaikan ibadah di bulan Ramadhan, semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT, pahala kita dilipat gandakan oleh Allah SWTdan dosa-dosa kita diampuni oleh Allah SWT.

Labels:

Layakkah kita memprotes musibah?

Pagi ini, langit masih agak gelap seakan-akan malam tidak ingin beranjak pergi. Seperti biasa, aku langkahkan kaki menuju sebuah terminal ‘bayangan’, menanti biskota yang akan mengantarku ke tempat kerja. Upps..ternyata sudah cukup ramai di sini, ada beberapa pedagang asongan sedang menjajakan dagangannya, ada pula penjual koran yang sedang menggelar koran & majalahnya, mereka berusaha meraih rezeki yang halal.

Beberapa saat kemudian, kuhampiri penjual koran itu, bapak penjual koran menawari harian olahraga, tapi entah mengapa hari ini aku ingin membaca yang lain, aku pilih sebuah harian ibukota, dengan beberapa lembar uang ribuan, koran tersebut berpindah tangan.

Tidak berapa lama, bus yang kutunggu-tunggu pun datang, penumpangnya pun tidak terlalu ramai. “hmm… kondisi yang maknyus buat membaca” gumamku. Sedetik kemudian, aku pun larut menyisir berita yang terdapat dalam koran tersebut. Setelah membaca singkat beberapa berita, mataku seperti terkunci pada sebuah kolom di halaman utama harian itu, judulnya ‘memprotes musibah’. Dahi saya berkerut ketika membaca sebuah hadist Rasulullah saw yang dikutip oleh penulis kolom tersebut,

''Jika ditimpa suatu musibah janganlah berkata, 'Oh, andai kata aku tadinya melakukan itu, tentu berakibat begini dan begitu', tetapi katakanlah, 'Ini takdir Allah dan apa yang dikehendaki Allah pasti dikerjakan-Nya.'' Ketahuilah, sesungguhnya ucapan 'andai kata' dan 'jikalau' membuka peluang bagi (masuknya) karya (kerjaan) setan.'' (HR Muslim).

Hmm..manusia mana yang tidak pernah tertimpa musibah, tapi tidak sedikit pula yang ‘mempertanyakan’nya, mengapa dirinya yang tertimpa musibah tersebut, mengapa pula bukan orang lain. Banyak pula yang berandai-andai ‘jika begini tentu akan begini dll’. Kita seringkali memprotes Allah, kita tidak ridha dengan ketentuan Allah. Seolah-olah kita tahu segalanya, kita tahu apa yang baik dan apa yang tidak untuk diri kita sendiri,

Allah swt berfirman,
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. QS57:22

Pena telah diangkat, lembaran-lembaran catatan ketetapan telah disimpan, setiap perkara telah diputuskan dan takdirpun telah ditetapkan. Hendaknya kita mengatakan,

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. QS9:51

Bersabarlah ketika bencana datang menghantam, kesusahan tiada henti mendera, penyakit yang tiada kunjung membaik, sungguh tidak ada satu pun manusia yang sanggup menghindari apa yang telah ditetapkan oleh Allah swt,

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. QS2:155

Seringkali kita terlalu mencemaskan musibah yang mungkin akan terjadi pada hari esok, memikirkan kesialan-kesialan & kejadian-kejadian yang akan terjadi di dalamnya, dan bersusah payah meramalkan kejadian-kejadian yang akan menghadang. Bukankah kita juga tidak tahu apakah akan menjumpai hari esok? Bukankah kita tidak tahu pula apakah hari esok itu akan berwujud kebahagiaan atau musibah?

Maka ridhalah dengan segala ketetapan Allah swt…

Wallahu alam bish-shawab.

Labels: