ハリスBlog

Belajar mendengar, melihat & menulis

October 22, 2008

Jangan ikuti mereka…!!!

Tidak henti-hentinya mengumbar aksi nyeleneh, kali ini salah seorang gerombolan liberal radikal mengulangi kebiasaannya. Amina Wadud menjadi imam sholat jumat (lagi) yang jamaahnya campur aduk antara laki-laki & perempuan. Sensasional bukan? Mereka memang selalu hobi tampil beda, walaupun pendapatnya, kelakuannya sangat jauh dari nilai-nilai kebenaran sekalipun.

Apakah yang menjadi alasan atau landasan berpikir sang Professor liberal radikal ini dalam melakukan aksi nyelenehnya?

“Tidak ada larangan dalam Al-Quran” katanya. “Penelitian teologisku dalam intisari agama Islam menunjukkan kebutuhan bagi kami untuk dapat berpindah jauh dari tradisi yang membatasi wanita dari kebiasaan praktek memimpin shalat.”

Jawaban yang menunjukkan adanya kesalahan fatal dalam kerangka berpikir yang hinggap di kepala seorang professor studi islam ini.

Islam telah menetapkan hukum-hukum dasarnya, yaitu asal segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah adalah mubah/boleh, kecuali ada nash Alquran maupun sunnah yang jelas dan tegas melarangnya.
Sedangkan hukum dasar suatu ibadah adalah TERLARANG kecuali ada nash Alquran maupun AsSunnah yang memerintahkannya atau dengan kata lain ibadah apapun bentuknya terlarang jika tidak diperintahkan oleh Allah dan RasulNya.

Jadi, jika Amina wadud meminta nash Alquran yang melarang (aksi nyelenehnya), jelas permintaan yang mengada-ada dan salah kaprah. Amina Wadud-pun tidak menikah dengan seekor monyet, mengapa? Apakah ada larangan dalam Alquran untuk menikahi seekor atau dua ekor monyet sekaligus? tidak ada khan, lalu mengapa Amina Wadud enggan menikah dengan seekor monyet atau beruk?

Satu-satunya hal yang melandasi kelakuan nyeleneh dan asal beda dari kalangan liberal radikal hanyalah ‘kebutuhan’ untuk menyalurkan hawa nafsu yang menyimpang. Sama sekali tidak terkandung ilmu yang melandasi segala tindak-tanduk maupun pendapat mereka. Tidak mengherankan jika ulama-ulama dunia mengecam keras aksi ini. Majma' Al-Fiqhi Al-Islami (MFI), rujukan tertinggi dalam masalah hukum fikih Islam di dunia, mengecam keras aksi 'nyeleneh' ini dan menyebutnya sebagai hal baru yang menyesatkan dan musibah. ulama besar Syeikh Yusuf Al-Qardhawi juga mengecam keras aksi shalat Jum’at nyeleneh ala Wadud itu. Al-Qardhawi menyebutnya sebagai bid'ah yang munkar. Menurutnya, dalam sejarah Muslimin selama 14 abad tak dikenal seorang wanita menjadi khatib Jum’at dan mengimami laki-laki. Bahkan kasus seperti ini pun tak terjadi di saat seorang wanita menjadi penguasa pada era Mamalik di Mesir.

Tapi apakah pemuja-pemuja aksi nyeleneh kaum liberal radikal ini akan berdiam diri dan tidak membela ‘tuan’nya dengan membabi-buta?
Bahkan orang yang tidak jelas asal-usulnya (latar belakang pendidikan agamanya) tiba-tiba mengeluarkan komentar bernada bingung nan linglung, seperti ini, “Itu, kalau Wadud salah. Kalau Wadud ternyata benar, manfaatnya jelas: kita menemukan kebenaran baru. Karena itu, terlepas dari benar atau salah, pandangan Wadud yang kontroversial sangat penting untuk dijadikan agenda isu terbuka umat Islam.”

Yah..manusia diberi karunia oleh Allah berupa akal, penglihatan, pendengaran dan hati, tentunya akan mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan celakalah bagi orang-orang yang tidak mau menggunakan akal, mata, pendengaran dan hatinya, lalu mengikuti (perbuatan) mereka bahkan membela dengan membabi-buta perbuatan yang jelas-jelas kadar kemungkarannya ini, karena semua karunia Allah tersebut pasti akan diminta pertanggungjawabannya, tidak akan ada yang terlewat…

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. QS17:36

Labels:

October 13, 2008

Jangan Sia-Siakan Sholat...



"Bacalah: "Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsunya, mereka kelak akan menemui kesesatan." (QS19:59)

Apakah saat ini, di zaman kita hidup, generasi-generasi buruk yang menyia-nyiakan sholat itu telah datang? Lalu siapakah orang-orang yang dimaksud dengan generasi-generasi buruk yang menyia-nyiakan sholat itu? Apakah kita termasuk di dalamnya? Apakah keluarga kita termasuk di dalamnya? Apakah saudara-saudara kita yang dimaksud oleh ayat tersebut?

Ketika ayat ini turun kepada Rasulullah saw, beliau bertanya kepada Jibril as, “Wahai Jibril, apakah sepeninggalku nanti umatku akan mengabaikan sholat?"

Jibril menjawab, "Benar, wahai Muhammad, kelak di akhir zaman akan datang sekelompok manusia dari umatmu yang mengabaikan sholat, mengakhirkan sholat (hingga keluar dari waktunya), dan memperturutkan hawa nafsu. Bagi mereka satu dinar (uang) lebih berharga daripada sholat."

Ayat inilah yang membuat Rasulullah saw bersedih, menangis dan menyesali keadaan umatnya. Beliau saw berkata, "Ahh..., andaikan saja aku dapat hidup terus untuk melihat apa yang diperbuat oleh umatku terhadap sholat. Ahh..., aku sungguh menyesali umatku."

Rasulullah saw sangat sayang kepada kita, sungguh beliau telah bersedih untuk kita…beliau telah menangisi keadaan kita…beliau telah menyesali perbuatan buruk yang kita lakukan. Lalu apakah kita telah menangisi diri sendiri? Apakah kita telah menyesali diri sendiri?

Rasulullah saw pun bersabda : “Ash shalaatu mi'rajul mu'miniin”. Bahwa, shalat itu adalah mi'rajnya orang-orang yang beriman. Shalat diumpamakan sebagaimana halnya Nabi mi'raj. Seorang hamba diperjalankan untuk datang, mendekat, menemui Tuhannya.
Bukankah kita mengaku sebagai hamba yang mencintai Allah? lalu mengapa kita merasa malas, enggan dan berat hati untuk menemui dan mendekati sesuatu yang kita cintai? Cinta macam apakah yang kita miliki? apakah kita yang membutuhkan sholat? atau jangan-jangan kita merasa, Allah-lah yang butuh sholat kita?

Kita adalah generasi yang terpesona oleh gemerlap dunia hingga menjadi sebuah bencana apabila kita tidak mampu meraihnya, apalagi kehilangannya. Dunia telah melalaikan kita, hawa nafsu begitu setia kita turuti kemauannya dan bujuk rayu syetan terasa indah dalam benak kita. Padahal, kita pasti akan meninggalkan dunia atau dunia yang akan meninggalkan kita, tidak ada sedikitpun keraguan tapi …mengapa kita sering meremehkan sholat? mengapa kita sering melalaikan dan mengakhirkan (pelaksanaan) sholat? Padahal tidak ada satu pun manusia yang mengetahui kapan sakratul maut datang menjemputnya. Mungkin saja, ketika kita terus menerus melalaikan dan mengakhirkan (pelaksanaan) sholat, tiba-tiba ajal datang menjemput. Setelah itu, tidak ada gunanya lagi penyesalan, tidak ada gunanya lagi apa-apa yang kita usahakan di dunia ini.

Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya): "Siapakah yang dapat menyembuhkan?", dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al Quran) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dam berpaling (dari kebenaran), kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. (QS75:26-35)

Menangislah…mudah-mudahan air mata yang menggenangi tempat sujud kita, membuat Allah mengampuni kita, membuat kita bukanlah termasuk orang-orang yang dihalau (menuju neraka), menyelamatkan kita dari azabnya yang kekal, yakni neraka jahannam.

Seperti apa yang disabdakan Rasulullah saw, "Dua (jenis) mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka: Mata yang menangis akibat ketakutan kepada Allah dan mata yang tidak tidur berjaga di jalan Allah."

Labels:

October 12, 2008

‘Air Susu Dibalas Dengan Air Tuba'

Pernahkah kita mengalami kejadian dimana seseorang yang seringkali kita berikan kebaikan kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkari kita dan membalasnya dengan kejahatan? Pernahkan kita mengalami peristiwa dimana budi baik yang telah kita tunjukkan kepada seseorang, tiba-tiba dicampakkan dan diremehkan begitu saja? Pernahkah kita mendengar peribahasa ‘air susu dibalas dengan air tuba’?

Watak cenderung untuk mengingkari, tidak setia dan membangkang merupakan penyakit jiwa yang umum menghinggapi manusia. Bahkan tabiat buruk tersebut, dengan ‘tega’ mereka praktekkan kepada Allah SWT. Berapa banyak manusia yang mengingkari-Nya padahal setiap saat manusia senantiasa memperoleh limpahan nikmat dan kebaikan dari Allah? setiap saat…Allah senantiasa menjaga dan melimpahkan nikmatNya bahkan ketika kita sedang terlelap tidur sekalipun.

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), (QS16:53)

Allah telah melimpahkan dan menjamin rejeki kita sejak lahir sampai meninggal nanti. Bahkan ketika kita masih menjadi bayi, yang tidak berdaya, tidak mampu menjaga dan mengurus diri sendiri, Allah telah mengirimkan kepada kita orang-orang yang menyayangi kita. Memberi makan, memandikan, mengasuh, hingga kita mandiri. Lalu Allah memberikan kepandaian, kekuatan dan rejeki terus menerus hingga kita menjadi dewasa seperti sekarang ini. Setelah kita hidup dan menikmati rejeki dari Allah, kenapa kita masih saja mengingkariNya?

sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan keingkarannya, (QS100:6-7)

Jadi, janganlah heran dan terkejut jika kita menyaksikan ada seorang manusia mengingkari dan mengkhianati kebaikan orang lain. Seringkali kita mendengar kisah dimana orang tua yang telah memberi makan, minum, pakaian, mengasuh dan menyayangi bahkan rela tidak tidur demi sang anak, rela tidak makan asalkan anaknya kenyang, rela pulang larut malam bahkan hingga pagi hari untuk mencari uang agar anaknya bisa mengecap pendidikan yang baik, rela bersusah payah agar anaknya senang dan bahagia, namun ketika sang anak besar dan kuat tulang-tulangnya, anak itu durhaka kepada orang tuanya. Sikap acuh, merendahkan dan menghina dengan perkataan dan perbuatan tidak henti-hentinya dialamatkan kepada orang tuanya.

Itulah kebanyakan manusia, yang tabiatnya buruk, wataknya sakit, dan jiwanya telah rusak. Maka janganlah kita terlalu mengharap orang lain untuk berterima kasih atas kebaikan yang kita berikan. Janganlah kita terusik dengan segala kebencian mereka. Jadikan sikap sabar dan sholat menjadi penolong kita, seperti apa yang tertulis dalam ‘surat cinta’Nya kepada kita,

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS2:153)

Dan tetaplah berbuat baik kepada sesama manusia, janganlah mengharapkan ucapan terima kasih dan balasan yang baik pula dari mereka, tapi ikhlaskan segala niat dan perbuatan, hanya untuk mencapai ridha Allah SWT,

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula terima kasih. (QS76:9)

Percayalah, apapun perbuatan baik yang kita lakukan pasti akan dibalasNya kelak, hanya Allah yang selalu membalas kebaikan dengan kebaikan. Siapakah yang paling benar perkataan dan janjinya selain Allah?

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan. (QS55:60)

Wallahu alam bish-shawab.

Labels:

October 8, 2008

Malaikat Tidak Akan Pernah Bisa Mereka Suap!!!

Allah memerintahkan kepada segenap manusia untuk menegakkan keadilan, karena rasa adil lebih dekat kepada takwa. Orang yang bertakwa pasti akan bertindak adil, yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Tidak pernah memandang warna kulit, suku, ataupun keturunan. Keadilan tidak akan pernah goyah hanya karena diiming-imingi gelimang harta, wanita dan kedudukan.

Allah swt merupakan Tuhan Yang Maha Adil. Tidak ada sesuatu-pun yang layak dibandingkan dengan keadilanNya. Tidak ada satu mahkluk pun yang pantas meragukanNya. Manusia yang mulia di sisi Allah bukanlah manusia yang kaya atau yang miskin, bukan pula manusia yang rupawan atau buruk rupa, bukan pula manusia yang jabatannya tinggi ataupun buruh kasar, bukan pula anak keturunan darah biru ataupun anak seorang gelandangan melainkan orang-orang yang bertakwa. Bahkan keturunan atau keluarga nabi, jika durhaka kepadaNya, tidak akan selamat dari AzabNya. Allah swt telah mengabarkan hal ini berulangkali di dalam Alquran. Allah memerintahkan air bah untuk menggulung kaum Nabi Nuh as yang durhaka kepadaNya, termasuk anak Nabi Nuh as. Begitupula ketika negeri kaum Luth as dihujani dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, Istri Nabi Luth as juga tidak selamat dari azabNya. Inilah yang dinamakan keadilan.

Muhammad saw -Rasul Allah- merupakan tauladan terbaik dalam segala aspek kehidupan bagi manusia. Beliau saw merupakan orang yang jujur, amanah dan adil. Keadilan ditegakkan seadil-adilnya, bahkan beliau dengan tegas akan memotong tangan putri kesayangannya –fatimah ra- jika kedapatan mencuri. Beliau bersabda, “jika anakku Fatimah mencuri, aku akan potong tangannya” (hadist). Padahal Fatimah merupakan putri kesayangan Rasulullah saw. Putri yang sangat dicintai Nabi saw. Pernah suatu ketika Rasulullah saw marah besar ketika mendengar kabar bahwa putri beliau, Fatimah ra akan dimadu suaminya -Ali bin Abi Thalib ra-, ketika mendengar rencana itu, Rasulullah saw pun langsung masuk ke masjid dan naik ke atas mimbar, lalu berseru, “Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi aku tidak akan mengizinkan. Sungguh aku tidak izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, dan aku persilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku, apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.”

Aduhai...betapa besar rasa cinta & sayang Rasulullah saw kepada Fatimah ra, tapi tidak menyurutkan beliau untuk bertindak adil. Inilah keadilan yang bisa direguk & dinikmati oleh siapapun, buah akhlak terbaik, akhlak manusia-manusia Rabbani.

Saat ini, di negeri dengan jumlah umat islam terbesar di jagat raya, keadilan adalah 'barang' yang mewah, bahkan bagi sebagian kalangan, keadilan bagaikan fatamorgana. Keadilan adalah sesuatu yang diimpi-impikan tapi tak pernah kunjung datang. Keadilan tak pernah sudi mengetuk pintu-pintu kaum miskin dan terpinggirkan. Sungguh, masih adakah sebutir keadilan di negeri ini?

Celakanya, aparat penegak keadilan yang seharusnya bertugas menciptakan dan menegakkan keadilan di tengah masyarakat, malah bersikap khianat dan tidak adil. Keadilan bisa dibeli dengan uang, pada akhirnya yang benar bisa menjadi salah, dan yang salahpun bisa menjadi benar, kebenaran pun dibungkam, dan kejahatan merajalela.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
“Dan janganlah sebagaian kamu memakan harta kalian di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu memberikannya kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda sebagian orang, dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (Al Baqarah: 188).

Dalam sebuah hadits marfu’ riwayat Abu Hurairah disebutkan :
“Allah melaknat penyuap dan penerima suap dalam (urusan) hukum” (HR Ahmad, 2/387; shahihul jami’ : 5069).

Apakah uang hasil pembungkaman kebenaran yang mereka kumpulkan tersebut akan berguna di Yaumul Akhir? Apakah mereka merasa mampu untuk menyuap malaikat agar tidak mendapat siksa di akherat nanti? Tidak tahukah mereka bahwa malaikat adalah mahkluk yang paling patuh kepada Allah swt sedangkan mereka sangat patuh kepada syetan?

Tidak...tidak, malaikat tidak akan pernah bisa mereka suap!!!



Labels:

October 6, 2008

Kita ‘Berhak’ untuk Membaca!

Kebodohan merupakan salah satu hal yang paling dimusuhi dan dibenci oleh Islam. Oleh karenanya, agama ini mengajak manusia yang tenggelam dalam kebodohan (jahiliyah) yang gelap gulita kepada cahaya ilmu nan terang benderang. Kebodohan sangat dekat dengan kesesatan, sedangkan kemiskinan sangat dekat dengan kekufuran. Orang yang berilmu bagaikan pelita di tengah kegelapan, sinarnya sangat dibutuhkan untuk menerangi lingkungan sekitarnya. Tidakkah kita ingin menjadi cahaya?

Sayangnya, hasrat menggebu untuk memperoleh ilmu seringkali ‘dihambat’ oleh beberapa faktor. Diantaranya faktor yang paling menonjol dan berpengaruh yakni negara yang berkewajiban menyelenggarakan kegiatan pendidikan untuk memenuhi hak & kebutuhan seluruh rakyatnya sesuai dengan amanah konstitusi, seringkali lalai sehingga banyak anak bangsa yang tidak terlayani haknya dengan baik. Pembodohan seolah-olah menjadi hal yang biasa & lumrah, malah terkesan di’budi-daya’kan. Orang bodoh tentu sangat mudah ‘dikendalikan’, ‘dikelola’ dan dipengaruhi sedemikian rupa demi kepentingan sebagian elite bangsa yang haus akan kekuasaan.

Kita tidak perlu jauh-jauh datang ke Belitung, seperti yang dikisahkan film ‘Laskar Pelangi’, hanya sekedar untuk melihat betapa buruk & memprihatinkannya kondisi belajar-mengajar di negeri ini. Di Jakarta saja, yang merupakan ibukota Negara, rasanya tidak terlalu sulit untuk menemukan sekolah yang seharusnya dinyatakan tidak layak baik dari fasilitas maupun unsur penunjang lainnya.

Indonesia merupakan negeri dengan mayoritas muslim terbesar di dunia. Negeri yang penduduknya mayoritas sadar telah diperintahkan langsung oleh Allah SWT untuk belajar. Ayat pertama yang turun kepada Rasulullah saw bukanlah perintah untuk mengerjakan sholat, zakat, atau naik haji. Melainkan perintah yang berbunyi, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan” (QS96:1). Intinya proses belajar dengan cara membaca atau menulis merupakan kuncinya ilmu pengetahuan. Kita tidak akan mampu menembus gerbang pengetahuan tanpa melalui proses belajar.

Seharusnya negeri yang mayoritasnya muslim ini menjadi panutan bagi umat lain, bukannya malah bangga hanya mampu membebek & membeo apa kata bangsa lain. Setiap muslim telah diberi amanah, langsung dari langit , amanah ini dibebankan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

Apakah negeri ini masih saja terus terlena hingga mengabaikan amanah nan agung ini?

Labels:

October 1, 2008

Parade akhir Ramadhan & Sholat Ied 1429H

Tidak terasa bulan Ramadhan telah berakhir, rasanya baru kemaren kita memulai puasa & berbuka di hari pertama puasa. Waktu senantiasa bergulir dan yang telah terlewati, tidak akan pernah kembali lagi, maka perhatikanlah waktu, inilah salah satu tanda kebesaran Ilahi.





Ramadhan memang telah berlalu, meninggalkan sejuta kenangan. Parade akhir Ramadhan di sebuah Mal di bilangan Jakarta Selatan. Berbuka puasa dengan menu makanan yang pasti berbeda dari biasanya. Ketika adzan berkumandang, segelas juice melon membanjiri keringnya tenggorokan, lalu beberapa lumpia dijejali ke mulut untuk mengganjal perut yang sedari pagi dibiarkan kosong keroncongan. Berbuka puasa selalu nikmat, salah satu Berkah & Rahmat Allah yang tiada batasnya. Alhamdulillah…

Malam ini, takbirpun bergema. Kalimat yang memuji kebesaran & keagungan Allah dikumandangkan oleh kaum muslimin, dari mesjid-mesjid, radio, bahkan dari blog teman-teman, subhanallah…

Pagi menjelang, derap kaki jemaah perlahan memenuhi tempat pelaksanaan sholat Ied. Sholat Ied yang dilakukan pada Hari Raya merupakan bentuk perwujudan rasa syukur kepada Allah swt atas segala RahmatNya, memberikan kesempatan kepada hambaNya untuk menyucikan diri di bulan penuh berkah ini.

Takbir 7x dikumandangkan imam, lalu suara merdu nan tartil membacakan ayat-ayat Allah, menelusuk relung-relung hati jemaah. Al Haaa….qqotu mal Haaa…qqoh, Wamaa adro kamal Haaa…qqoh, hari kiamat, apakah hari kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu? (TQS69:1-3).
Kemudian Imam bertakbir 5x, menandakan sholat memasuki rakaat kedua. Lagi, suara merdu nan tartil mengaduk-aduk perasaan jemaah dengan ayat-ayat Allah dari surat Al Ma’arij.

Sholat dilanjutkan dengan ceramah Ied yang intinya mengajak jemaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai madrasah Ilaiah, untuk diterapkan pada 11 bulan lainnya. Jiwa-jiwa yang telah kembali fitrah, senantiasa dipertahankan, dipupuk untuk menjalani kehidupan di bulan selain Ramadhan.

Pagi yang penuh berkah ini, ditutup oleh untaian doa. Perlahan, airmata pun meleleh membasahi pipi, gerimis mengguyur hati.

Parade Ramadhan pun berakhir, semoga kita berjumpa kembali dengannya di tahun depan, amin!

Labels: