ハリスBlog

Belajar mendengar, melihat & menulis

November 4, 2008

Semu menjadi Nyata...

Pernahkah kita memperhatikan lembaran uang kertas rupiah yang tersimpan rapi di dalam dompet kita masing-masing? Apakah tidak pernah terlintas di benak kita, mengapa selembar kertas yang diberi angka ini menjadi berharga dan bisa kita gunakan untuk membeli atau membayar sesuatu? Bukankah bentuk fisiknya hanya selembar kertas? Lalu apakah yang terjadi apabila kita merobek selembar uang lima puluh ribu rupiah ini menjadi 2 bagian yang sama, apakah kertas tersebut masih bernilai? Apakah 2 lembar uang kertas tersebut bernilai masing-masing 25.000 rupiah?

Hukum di dunia mengikuti Hukum Allah, sesuatu yang sebenarnya tidak ada nilainya tapi dikemas atau dibuat seolah-olah bernilai, suatu saat pasti akan kembali ke bentuk asalnya yaitu tidak berharga lagi. Benda diam yang kita putar, perlahan tapi pasti, akan kembali diam.

Uang kertas yang kita gunakan saat ini merupakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada nilai instrinsiknya alias nihil, tapi sengaja ditetapkan, dipaksakan dan direkayasa sehingga (seolah-olah) bernilai. Akhirnya nilai hasil 'rekayasa' ini pun tidak akan bertahan lama, berangsur-angsur, perlahan tapi pasti, nilainya akan berkurang terus, lama kelamaan akan kembali ke kondisi awalnya yaitu tidak bernilai.

Ketika SD dulu, dengan uang senilai seratus atau dua ratus rupiah, aku bisa pulang sekolah dengan menggenggam es di tangan kiri dan cak weh di tangan kanan. Lalu bagaimana keadaan sekarang? Jangankan untuk membeli es atau cak weh, pengemis atau pengamen jalanpun akan cemberut jika kita berikan uang seratus atau dua ratus rupiah. Meminjam bahasa gaulnya aktor 3 jaman H (alm) Benyamin Sueb, “gembel aje kaga doyan!”

Investasi berbasis uang kertaspun sangat rendah nilainya. Misalkan saat ini kita memiliki tabungan hari tua seperti jamsostek atau simpanan untuk pendidikan anak. Andaikan saja, saat ini anak kita baru lahir ke dunia, lalu kita membeli produk asuransi pendidikan senilai 50 juta yang akan cair ketika si anak akan masuk perguruan tinggi. Apakah kita yakin uang 50 juta tersebut, akan cukup untuk membiayai masuk perguruan tinggi, 18 tahun yang akan datang?
Apalagi tabungan hari tua semacam jamsostek, gaji dipotong setiap bulannya. Lalu dana tabungan tersebut akan kita ‘nikmati’ setelah pensiun, apakah tabungan hari tua tersebut benar-benar bisa 'menjamin' hari tua kita?

Kita pun tidak pernah mendengar, cerita mengenai pemburu harta karun yang mengejar harta berupa uang kertas. Seberapapun besar & banyaknya uang kertas tersebut. Pemburu harta karun dari masa ke masa, selalu memburu sesuatu yang bernilai nyata, seperti emas, perak dll.

Pernahkah terlintas pertanyaan di dalam hati kita, mengapa uang yang dulu bisa kita gunakan untuk membeli sesuatu, saat ini tidak lagi mampu untuk membeli barang yang sama? Apakah harga barang tersebut yang naik atau nilai uangnya sendiri yang turun? Padahal es atau cak weh yang kita beli tidak ada perubahan kualitasnya, es nya tetap sama, cak weh nya pun tetap sama. Atau harga seekor kambing, beberapa tahun yang lalu berkisar 300 ratus ribuan, sekarang kita baru bisa mendapatkan seekor kambing jika kita mengeluarkan uang senilai 1 jutaan rupiah. Padahal kambingnya pun sama, tetap disebut kambing, yang tiap harinya makan rumput bukan burger, bukan pula kambing dengan badan seekor sapi. Mengapa harganya semakin ‘mahal’?

Islam sebagai agama yang sempurna yang diturunkan bagi kesejahteraan umat manusia, sudah tentu memiliki petunjuk untuk mengatur kehidupan umatnya. Di Jaman Rasulullah saw, Emas & Perak digunakan sebagai mata uang yang disebut dinar dan dirham. Uang emas & perak ini sudah lebih digunakan oleh bangsa-bangsa terdahulu seperti bangsa Persia bahkan digunakan juga di seluruh dunia, termasuk di kerajaan-kerajaan nusantara. Dan umat islam baru mencetak sendiri koin emas pada zaman kalifah Ustman dengan tulisan arab berlafadz ‘bismilillah’.

Harga kambing di jaman Rasulullah saw, berkisar antara 0.5–2 dinar, saat ini pun, kita bisa mendapatkan seekor kambing dengan koin emas 1 dinar saja. Jadi selama 1400 tahun, nilai emas dinar tidak berubah. Mengapa? Karena uang emas atau perak memiliki nilai tanpa direkayasa & dipaksa oleh Negara. Emas merupakan ‘standar’ nyata bukan komoditas semu yang dispekulasikan. Emas dimanapun akan tetap berlaku, tidak memandang batas wilayah atau Negara. Emas tetap emas walaupun kita menemukannya 100 atau 200 tahun kemudian. Waktu-pun tidak mampu menggerus nilai emas.

Menurut Zaim saidi, Segala hal yang tidak memiliki pijakan nyata, atau komoditas semu yang dispekulasikan, adalah riba. Riba itu pangkal kehancuran masyarakat. Menurutnya, riba bukan sekadar rente atau bunga atas pinjaman uang. Sejatinya, uang kertas adalah riba karena nilainya adalah nilai semua. Maka, selembar kertas yang sama tiba-tiba punya nilai berbeda ketika yang menuliskan angkanya berbeda. Rp 100 tak dapat dipakai membeli apa-apa karena yang menuliskannya orang Indonesia. Sedangkan 100 dolar menjadi berharga karena angka seratus itu milik Amerika.

Wajar saja, perlahan tapi pasti riba akan hancur atau dengan kata lain uang kertas akan hancur. Karena “Allah-lah yang memusnahkan riba” (QS2:276)

Amat disayangkan, potensi besar umat islam yang berjumlah 1 milyar lebih jika menggunakan uang emas atau perak, tentunya akan dengan mudah ‘menyingkirkan’ dominasi uang kertas yang dzolim, tidak adil dan cenderung spekulatif. Lalu mengapa kita –umat muslim- ‘takut’ meninggalkan uang kertas? Mengapa kita –umat muslim- tidak ingin menjauhi riba? Mengapa kita masih saja ragu mengubah sesuatu yang semu menjadi nyata…

Labels: