ハリスBlog

Belajar mendengar, melihat & menulis

February 14, 2009

Pejuang Sejati

2 bulan terakhir ini, karena ‘terpaksa’ harus les bahasa jepang, seringkali pulang malam. Biasanya, bis & angkot menjadi tumpuan harapan yang sangat diandalkan untuk pulang ke rumah. Namun karena malam semakin pekat, badan pun semakin penat, maka alternative lain harus menjadi solusi. Akhirnya, pulang ke rumah ‘terpaksa’ menggunakan taksi. Dalam bahasa jepangnya, “watashi wa takushi de uchi e kaerimasu”.

Beraneka ragam sopir taksi, maka bermacam-macam pula sifat & tingkah polahnya. Ada yang pendiam, ada pula yang suka mengobrol, ada yang hobi dangdutan, ada pula yang hobi mendengarkan lantunan lagu dari (alm) broery. Ah itulah hebatnya ALLAH, sang Pencipta Alam Semesta ini. Tapi berapa banyak manusia yang malah mengkufuri-Nya..

Suatu waktu, aku menumpang taksi dan kebetulan sopirnya suka mengobrol. Beliau menceritakan baru saja mendapat musibah, ban mobilnya terperosok ke dalam lubang. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya ada seorang bapak yang bersedia menolong, dengan dibantu beberapa orang pegawainya, taksi itu pun berhasil dikeluarkan dari lubang. Betapa senang hati sang sopir, antara sungkan & rasa senang yang meluap-luap, ia raih beberapa lembar hasil jerih payahnya seharian, namun bapak & pegawainya yang baik hati ini, menolak pemberiannya, Subhanallah…ternyata di Jakarta ini masih ada orang-orang yang tulus menolong sesamanya tanpa pamrih.

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula terima kasih. (QS76:9)

Cerita pun berlanjut lagi, ketika musibah itu terjadi, pak sopir sedang melamun karena memikirkan anak lelakinya yang duduk di bangku SMP ‘ngotot’ minta dibelikan motor. Seorang sopir taksi tentu berat mengabulkan permintaan seperti itu, faktor ekonomi menjadi hambatan utama. Walaupun beliau sangat ingin membahagiakan anaknya. Betapa seorang bapak sangat menyayangi anaknya, walau terkadang sang anak kurang memahami kasih sayang itu.

Ingatanku langsung melayang mundur beberapa tahun yang lalu, wajah almarhum bapak membayang-bayang di hadapanku. Kerut di wajahnya pun terlihat jelas, bukti betapa berat beliau menopang beban hidup ini, kerja keras tidak mengenal waktu, bahkan hingga larut pagi, padahal hanya satu saja keinginannya, membuat anak-anaknya bahagia.

Kasih sayang itu belum pun terbalaskan, kebaikan itu pun belum cukup terbayarkan. Namun kesempatan untuk itu telah hilang. Saat ini, hanya air mata & doa di keheningan malam untuk bapak, pejuang sejati yang tiada bandingnya…

Maafkan aku..


Labels: