ハリスBlog

Belajar mendengar, melihat & menulis

October 6, 2009

Menghargai sebuah Nyawa

5 hari pasca gempa mengguncang Padang dan sekitarnya, 5 hari pula hati tergetar mendengar kabar ribuan korban telah berjatuhan, ribuan bangunan hancur luluh lantak, jalan & jembatan rusak berat, Padang pun lumpuh total, tergolek lemah tak berdaya.

Bencana demi bencana menerpa, toh tidak membuat bangsa ini belajar banyak darinya. Jangankan untuk menyelami makna yang tersirat dibalik bencana ini, memperbaiki kesalahan demi kesalahan yang dilakukan dalam menangani pasca bencana pun sangat sedikit dilakukan, tak nampak perubahan yang berarti.

Sampai detik ini, bangsa ini tidak memiliki sistem penanggulangan bencana yang terpadu dan komprehensif. Manusia tidak bisa menghindarkan diri dari bencana yang datang, tapi manusia bisa berusaha untuk meminimalkan korban yang jatuh sekecil mungkin dan kerusakan yang mungkin terjadi serendah mungkin.

Banyak hal yang bisa dilakukan, sebelum bencana ataupun pasca bencana, misalnya pemerintah di pusat maupun daerah harus bersinergi mendukung penuh mengenai tata ruang dan bangunan yang tahan gempa, baik itu aturannya, kebijakan maupun pengawasan pelaksanaannya.

Kemudian bagian penting lainnya yang sering diremehkan yaitu sosialisasi pengetahuan bencana dan penanggulangannya harus dilakukan, dengan cara edukasi & latihan yang berkala. Sehingga masyarakat luas mengetahui apa yang harus mereka lakukan ketika bencana itu terjadi. Sayangnya, kita tidak pernah melakukan ini, kita tidak pernah mempersiapkan diri dengan baik.

Manajemen dan koordinasi pasca bencana pun harus tertata dengan baik, sehingga tidak ada lagi kesimpang siuran mengenai data korban, korban yang masih terperangkap atau tertimbun gempa dapat segera ditolong dan dievakuasi karena detik demi detik sangat berarti bagi mereka, para pengungsi pun bisa tertangani dengan baik, distribusi bantuan dilakukan sesegera mungkin dan sampai ke tangan korban dalam cakupan area bencana seluas mungkin. Tidak ada lagi istilah “sudah jatuh tertimpa tangga”, seperti bencana yang lalu dan saat ini.

Tolong, hargailah sebuah nyawa, tidak peduli nyawa tukang becak, supir angkot atau wakil rakyat sekalipun, nyawa adalah nyawa.

Labels:

October 4, 2009

Mengundang Miyabi = Mengundang Azab?

Untuk kesekian kalinya, negeri dengan penduduk muslim terbesar di jagat ini hendak "bertingkah" lagi, mereka lebih memilih diam & bahkan (diam-diam) mendukung ketika segelintir orang yang jiwanya rusak hendak mengundang artis porno jepang untuk bermain film komedi di indonesia.

Apa urgensi mengundang Miyabi? apakah dia artis komedi? Tentu saja bukan, dia adalah artis porno terkenal jepang, peringkat 9 JAV idol. Dia tidak bisa berakting kecuali urusan tempat tidur. Lalu mengapa pula film komedi? Mungkin karena film komedi Indonesia saat ini, tidak jauh dari urusan dada, paha dan tempat tidur, maka mereka berupaya mendatangkan Miyabi yang merupakan artis porno terkenal -tentunya dengan iming-iming biaya yang tidak sedikit jumlahnya- agar meraup keuntungan semata.

Lalu mengapa ada saja orang yang mendukungnya? Sebabnya bisa macam-macam, mungkin jika dia laki-laki, orang ini sangat memendam hasrat, berangan-angan dan bercita-cita, anak perempuannya atau istrinya bisa seperti miyabi, Dan jika orang yang mendukung kedatangan Miyabi ini adalah perempuan, karena di dalam dadanya ada hasrat menggebu ingin hidup bergelimang harta, seperti yang dijalani Miyabi saat ini.

Mengapa negeri dengan penduduk muslim terbesar sejagat raya ini gemar bermaksiat secara jemaah? Mengapa negeri ini beramai-ramai berani “menantang” Allah?

Entahlah..mungkin negeri ini memang sengaja mengundang adzab Allah, kita ingin Allah murka kepada kita dan menimpakan bencana lainnya. Padahal belum kering air mata para korban bencana di sumatera, belum kering pula darah yang tumpah di bumi yang terbelah itu, belum pula sembuh luka di hati para korban yang ditinggalkan kerabat tercintanya, bahkan masih banyak korban bencana yang belum dapat dikuburkan dengan layak karena masih terperangkap di reruntuhan bangunan. Lalu..Kita hendak “bertingkah” lagi, kemanakah perginya akal dan nurani ini?

Rasulullah SAW bersabda: "Apabila perzinaan dan riba telah melanda suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah menghalalkan turunnya azab Allah atas mereka sendiri". (HR Thabrani dan Al Hakim).

Labels: